Malam-malamku habis hanya untuk menyebut namamu, meminta kepada Tuhan agar kamu kembali. Hari demi hari kuhabiskan untuk menunggu hal yang tidak pasti, namun karena percaya pada kebaikan Tuhan, aku tetap bertahan.
Saking sibuknya mengharapkanmu, aku sampai lupa pada diriku sendiri. Aku lupa mendoakan hatiku yang hancur karena semua perbuatanmu. Aku lupa meminta kesembuhan atas cara berdarahmu menyakitiku, hingga doaku berbalik menjadi dendam dan tangis yang menyumbat dada.
Dari luka itu, aku akhirnya tersadar dan belajar...
Doa ternyata tempat untuk mengadu, bukan tempat memaksakan kemauan. Aku terlalu jauh melangkah, sampai lupa arti doa yang sebenarnya.
Ya Tuhan, sembuhkanlah aku dari perih yang dia tinggalkan. Bimbing hatiku agar bisa mencintainya dalam bentuk keikhlasan, bukan lagi dalam bentuk ambisi untuk memiliki.
Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.
Kini aku paham, jawaban doa itu hanya ada tiga, tidak karena tidak baik, belum karena belum waktunya, atau iya, berarti sesuai kehendak-Nya.